Demo Full Day School Dinilai Aneh

84

Jakarta, BerkatTV. Anggota Komisi X DPR RI, Dadang Rusdiana mengaku heran dengan aksi unjuk rasa penolakan rencana full day school (FDS) yang meneriakkan bunuh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi karena mengeluarkan Permendikbud Nomor 23/2017.

“Unjukrasa itu boleh dilakukan sepanjang dilakukan dengan santun, tidak mengeluarkan kata-kata kotor apalagi ujaran kebencian. Masa berteriak Allahu Akbar tapi teriak bunuh menterinya? aneh banget,” kata Dadang, Senin (14/8/2017).

Sekretaris Fraksi Partai Hanura DPR RI ini meminta aparat kepolisian untuk menelusuri itu, karena tidak boleh membiarkan cara berunjuk rasa dengan gaya mengancam seperti itu. Menurut dia, program lima hari belajar bisa didialogkan dimana keberatannya.

“Lebih baik gunakan dialog dengan akal sehat, bukan provokatif, apalagi ancam-mengancam,” ujarnya.

Ia mengatakan lima hari belajar sama sekali tidak akan menggusur madrasah diniyah. Menteri berkali-kali menjelaskan, ini karena kesalahpahaman, tidak memahami secara utuh konsep lima hari belajar.

“Dan anehnya kok istilah Full Day School yang dikedepankan, tidak ada itu Full Day School,” jelasnya.

Untuk diketahui, aksi penolakan Full Day School (FDS) tersebut dimotori oleh PBNU. Bahkan, PBNU mengnstruksikan kadernya untuk menggelar aksi penolakan terhadap kebijakan lima hari sekolah dalam sepekan. (inilah.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here