Polda Kalbar Ungkap Prostitusi Online Sesama Jenis. Satu Tersangka Penyebar Virus AIDS

0
203
Dua pelaku penyebar konten asusila dan penyebar AIDS diamankan tim cyber polda kalbar. Foto: joni

Pontianak, BerkatTV. Tim Cyber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar mengungkap kelompok gay yang mencari sasaran di dunia maya, yang rata-rata korbannya anak-anak dalam memuaskan nafsunya.

“Dalam kasus gay atau LGBT ini, kami mengamankan tiga tersangka, yakni berinisial DHP (27), RS (19) warga Pontianak, dan Efa atau Deo (27) warga Kapuas Hulu Senin (4/12),” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar, AKBP Mahyudi Nazriansyah, Rabu (6/12).

Ia menjelaskan, dari ketiga tersangka gay tersebut, satu diantaranya mengidap HIV/AIDS dan TB sehingga sangat berbahaya sekali, karena telah menyebarkan penyakit tersebut kepada para korbannya.

“Malah dari pengakuan ketiga tersangka, jumlah anggotanya sudah mencapai 100 orang. Yang lebih mengkhawatirkan lagi tersangka yang mengidap HIV/AIDS tersebut sudah melakukan hubungan seks sesama jenis dengan korban yang rata-rata anak tersebut sebanyak 100 kali lebih dengan korban yang berbeda-beda pula,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sasaran kelompok gay tersebut, memang mencari anak-anak karena mudah dipengaruhi.

“Mereka melakukan aksinya yakni dengan mengirimi korban -korbannya dengan foto-foto ‘syur’ yang melanggar kesusilaan, sehingga korbannya terbujuk rayuan untuk melakukan hubungan sesama jenis tersebut,” kata Mahyudi.

Dalam kesempatan itu, Direskrimsus Polda Kalbar mengimbau kepada masyarakat atau para orang tua agar mengawasi anak-anak mereka agar tidak terlibat dalam pergaulan bebas tersebut, bahkan sangat berisiko tertular HIV/AIDS.

Adapun barang bukti dari ketiga tersangka yang diamankan, diantaranya screenshot akun fabebook, twiter handphone berbagai merk, yang digunakan untuk aktivitas melanggar kesusilaan dalam mencari korbannya.

Tersangka diancam pasal 45 ayat (1) Jo pasal 27 ayat (1) UU No. 19/2016 tentang Perubahan atas UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman penjara maksimal enam tahun atau denda maksimal Rp1 miliar.(jon)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here