Kisah Pemuda Tanpa Anus Berjuang Hidup 22 Tahun

186
Sudarsono pemuda tanpa anus ini terus berjuang hidup melawan derita yang dialaminya selama 22 tahun. Foto; Rizky Kurniawan

Kubu Raya, BerkatTV. Setiap orang tidak menginginkan terjadi kelainan fisik di tubuhnya. Kesempurnaan tentu menjadi dambaan. Keinginan itu tersirat dari raut wajah Sudarsono pemuda lajang warga RT 06 RW 01 Dusun Sadong Desa Simpang Kanan Kecamatan Sui Ambawang.

Sejak 22 tahun silam tepatnya tanggal 11 November, Sudarsono terlahir dalam keadaan tanpa memiliki lubang anus, bagian tubuh untuk Buang Air Besar (BAB). Saat itu Sudarsono kecil terus berjuang untuk menjalani hidupnya.

Perjalanan waktu, ia harus merelakan ibunya pergi menghadap Sang Khalik. Diusia sembilan tahun ia tinggal bersama bibinya yang kemudian akrab dipanggilnya “Nek Wan”. Pun demikian, saudara dan keluarganya yang lain tetap memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Sayangnya saat di bangku kelas II SD, Sudarsono terpaksa berhenti lantaran sering BAB melalui usus yang keluar dari sebelah kiri perutnya berwarna merah. Ia tampaknya malu untuk meneruskan pendidikannya.

Upaya untuk penyembuhan telah dilakukan pihak keluarga. Empat kali telah dilakukan operasi besar untuk menciptakan lubang anus. Beberapa bagian di area perut terdapat bekas luka operasi. Namun belum ada titik terang. Anus yang telah dibuat dokter belum dapat difungsikan.

“Menurut dokter harus dilakukan operasi lagi. Tapi belum sekarang karena usus saya sudah menjadi pendek,” tuturnya saat ditemui BerkatTV.com di kediamannya.

Jika makan Sudarsono lakukan seperti biasa. Namun saat BAB ia akan merasakan perih dan sakit. Pantangannya ia tidak boleh melakukan aktifitas berat dan terlalu lama terkena air.

“Karena itu saya hanya bisa ke sana sini. Biasa main tempat kawan. Biasa ke pondok di kebun karet Nek Wan. Bantu-bantu (noreh getah,red),” ucapnya.

Sudarsono ingin penderitaan yang dialaminya segera berakhir. Sehingga ia memiliki lubang anus layaknya manusia umumnya lainnya.

Kelainan fisik yang dialami Sudarsono telah diketahui oleh warga kampung. Sering kali ia juga mendapat perhatian khusus dari warga.

Sementara untuk biaya penyembuhan, menurut Kepala Dusun Sadong Desa Simpang Kanan, Supriyono selama ini masih diatasi oleh pihak keluarga.

Belum ada pihak keluarga mengajukan permohonan bantuan secara resmi untuk membantu pengobatan Sudarsono.

“Selama ini masih ditanggulangi keluarga. Tidak menggunakan BPJS atau semacamnya. Desa akan siap membantu jika memang dibutuhkan pihak keluarga. Akan tetapi jika pemerintah ada program bantuan ini akan sangat lebih baik lagi,” terangnya.

Sementara itu Anggota DPRD Kubu Raya, Rohmad menyatakan keprihatinannya terhadap kelainan fisik yang dialami Sudarsono.

Ia berharap Dinas Kesehatan Kubu Raya dapat membantu biaya pengobatan Sudarsono menjalankan operasi besarnya nanti.

“Dinas Kesehatan harus turun langsung untuk melihat kondisinya,” tuturnya.

Politisi Partai Gerindra dapil Sui Ambawang – Kuala Mandor ini berharap Sudarsono dapat diikutkan sebagai peserta program Jamkesda (Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah) yang alokasi anggarannya bersumber dari APBD Kubu Raya.

Syarat dan mekanisme administrasinya menurut Rohmad akan dibantu oleh perangkat desa setempat. Sehingga Sudarsono tidak lagi menderita dalam hidupnya yang tidak memiliki lubang anus. (riz/rob)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here